Reog

Belum diketahui secara pasti apa yang dimaksud dengan istilah “Reog” dan darimana asalnya serta siapa yang pertamakali membentuk kesenian “reog”. Apakah hanya ada di daerah Priangan saja atau di daerah lainnyapun ada sebagaimana Seni Reog Ponorogo? Jawabannya belum diperoleh informasi yang jelas dan belum ada yang menelusuri sejarah perjalanan seni reog ini.

Namun, masyarakat umum mengenal secara luas seni reog tatkala TVRI menayangkan secara berkala Kesenian Reog yang dimainkan oleh Polri dengan pelakunya antara lain “Mang Diman Cs”(Gup BKAK). Atau sekitar Tahun 1967 muncul perkumpulan Reog Wanita dengan tokohnya Pak Emen dan Ibu Anah dan kemungkinan di daerah lainyapun bermunculan seni reog hanya tidak tercatat secara jelas.

Ada suatu pendapat yang mengatakan bahwa istilah “:reog” adalah kependekan dari Reorganisasi ogel (kesenian ogel , lawak dan tari-tarian), adapula pendapat istilah reog itu dari keseniak Reak, ataupun pendapat lainnya, bahwa reog itu berasal dari ugal-igel (karena pemainnya menggerakan anggota tubuh untuk menari dengan tarian kocak atau sambil melucu). Konon khabarnya sejak jaman para wali kesenian ini sudah ada dan biasa dimainkan oleh para santri. Hingga tahun 1953 muncul grup reog antara lain Grup Reog Tunggal Wargi pimpinan Pa Amin Mihardja dan Grup Reog Ajendam pimpinan Pa Dase.

Sebagaimana kesenian lainnya, seni reogpun disenangi oleh masyarakat terutama masyarakat di pedesaan dan sebagian kecil masyarakat perkotaan karena mengandung unsure hiburan dan daya tarik irama gendang (dogdog : Bahasa Sunda) yang dipukul secara variatif serta dikombinasikan dengan gerak tari lucu dan lirik lagu yang sarat pesan social dan keagamaan.

Walaupun kesenian yang diimport dari barat semakin melimpah namun pada sebagai masyarakat tertentu masih menyukai kesenian reog. Hanya saja pemain dan kelompok organisasinya semakin sulit untuk dijumpai dan kalaupun ada mereka itu biasanya dari kelompok generasi tua. Pertunjukannyapun sudah semakin jarang karena tidak ada atau sangat kurangnya order manggung.

Bahkan ketika hiburan HUT Kemerdekaanpun jarang ada panitia yang menjadualkan kesenian reog karena masyarakat lebih menyenangi dangdut dan band kebarat-baratan.

Kesenian reog biasanya dimainkan oleh empat orang dengan struktur ; seorang dalang, yaitu yang mengendalikan permainan, seorang wakil dalang, dan dua orang lain lagi sebagai pembantu. Dalang memegang gendang atau dogdog yang berukuran 20 cm yang disebut dogdog Tilingtingtit, pembantu dalang memegang gendang yang berukuran 25 cm atau yang disebut Panempas dan pemain ketiga menggunakan dogdog ukuran 30-35 cm dan disebut Bangbrangserta pemain keempat memegang dogdog ukuran 45 cm yang disebut pula Badublag. Pemain ketiga dan keempat biasanya berperan sebagai pelawak sedangkan pemain kesatu dan kedua mengendalikan scenario jalan cerita. Lama permainannya berkisar antara satu sampai satu setengah jam dan untuk pengirinng lagu-lagunya sebagai selingan atau pelengkap adalah para penabuh waditra dengan perlengkapan seperti ; dua buah saron, gendang, rebab, goong, gambang dllnya.

Pada perkembangan saat ini salah satu yang mungkin menurunnya kualitas seni reog ialah karena para pemainnya terlalu lama melawak sedangkan memainkan dogdognya hanya sebentar, sehingga muncul sindiran dalam Bahasa Sunda Cul dogdog tinggal igel, artinya dogdognya ditinggalkan (tidak dimainkan) igel (ibing dan melawaknya) yang diutamakan.

Walaupun sudah mulai tersisihkan, masih banyak warga masyarakat yang mengharapkan agar media masa seperti; TVRI, dan Stasiun Televisi swasta menayangkan jenis-jenis kesenian seperti reog ini.
Terakhir ini Pemerintah Kota Bandung mengadakan festival Reog se Kota Bandung yang diikuti sekitar 32 grup dan ini menandakan masih adanya kesenian Reog di lingkungan masyarakat Sunda khususnya di Kota Bandung. Tentu di daerah lainyapun pasti ada hanya saja karena tidak adanya yang mengkoordinir atau tidak adanya pertemuan semacam festival menimbulkan mereka tidak muncul atau mereka hanya bermain di lingkungan sekitarnya.

sumber : jabarprov.go.id

Tentang dallirangga

seorang yang pendiam
Pos ini dipublikasikan di seni & budaya. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s